Teknologi Tepat Guna Adalah Solusinya, Bukan Pembelajaran Berbasis-ICT Kalau menggunkan Ilmu Teknologi Tepat Guna (Ilmu Teknologi Pendidikan) komputer jarang dipakai di kelas, dan tidak perlu, sebetulnya (Jarang Tepat Guna).
Teknologi Tepat Guna (TTG) sudah ada di semua sekolah di Indonesia 'Sekarang', dan guru-guru hanya perlu belajar caranya menggunakan TTG secara efektif, dan bersama PAKEM kita dapat mencapaikan Pendidikan Standar Dunia. Maupun Menggunakan Strategi/Metodologi TTG (Yang Berbasis-Pedagogi) Adalah Cara Terbaik Untuk Mengintegrasikan Semua Macam Teknologi Dalam Pendidikan.
Pembelajaran Berbasis-ICT Di Kelas Dapat Sangat Mengancam Perkembangan SDM (Maupun Perkembangan Guru) Yang Kreatif Di Indonesia. )
JAKARTA, Indonesia bakal menjadi tuan rumah lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia ke-17 atau 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) yang diikuti pelajar dari 19 negara. Pada ICYS yang dilaksanakan di Bali pada 12-17 April nanti ini, Indonesia menargetkan juara umum. Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan, pada ajang ICYS di Polandia tahun lalu Indonesia berhasil menjadi juara umum. Saya menaruh keyakinan karena ini di kandang sendiri. Mudah-mudahan cita-cita kita tercapai menjadi juara umum, kata Suyanto saat pelepasan peserta ICYS di Jakarta, Kamis (8/5/2010).
Pada penyelenggaraan di Pszcyna, Polandia, itu Indonesia berhasil meraih prestasi gemilang menduduki peringkat pertama dan menjadi juara umum. Indonesia meraih enam medali emas, satu perak, dan tiga perunggu. Disusul Belanda di peringkat kedua dengan tiga medali emas, satu perak, dan dua perunggu. Adapun peringkat ketiga diraih Amerika Serikat dengan tiga medali emas, Rusia di peringkat keempat, serta Polandia di peringkat kelima dengan perolehan masing-masing dua emas.
ICYS merupakan lomba penelitian ilmiah remaja bergengsi tingkat dunia di bidang Ilmu Fisika, Matematika, Komputer, dan Ekologi. Kompetisi ilmuwan remaja dari berbagai negara ini dimaksudkan untuk menggali potensi peneliti muda yang kelak dapat berperan dalam mengembangkan keilmuan untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh umat manusia di dunia.
Lomba ini diadakan setiap tahun di Eropa dengan negara peserta dari daratan benua Amerika dan Asia. Untuk pertama kalinya, ICYS digelar di Asia dan Indonesia terpilih sebagai tuan rumah.
Pada ajang ICYS kali ini, Indonesia mengirimkan sebanyak 12 siswa SMA terpilih dari seluruh Indonesia. Mereka adalah Dita Nurtjahya (SMAN 1 Sungailiat, Kepulauan Bangka Belitung); Dwiky Rendra Graha Subekti (SMA Theresiana 1 Semarang); Florencia Vanya Vaniara (SMA Santa Laurencia Serpong); Muhammad Kautsar (SMAN 6 Yogyakarta); Andreas Widi Purnomo (SMA Santa Laurensia Serpong); Miftah Yama Fauzan (SMAN 1 Sidoarjo); Fauqiah Tambunan (SMA Mutiara Bunda Bandung); Rizal Panji Islami (SMAN 3 Bandung); Ilham Naharudiansyah (SMA Lab School, Kebayoran Jakarta); Sonny Lazuardi N (SMAN 5 Bandung); Aria Dhanang Dewangga (SMAN 5 Bandung); serta Oki Novendra (SMAN 1 Bogor).
Sumber: Kompas.Com
JAKARTA, Pelajar-pelajar Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa dalam kancah persaingan keilmuan di dunia internasional. Kali ini, tim pelajar Indonesia berhasil meraih satu medali perak, satu medali perunggu, dan satu penghargaan honourable mention pada ajang International Sustainable Energy Engineering and Environment Project Olympiad 2010 atau I-SWEEEP 2010 yang berlangsung 14-19 April 2010 di Houston, Texas, AS. I-SWEEEP merupakan olimpiade proyek penelitian tingkat internasional yang melombakan tiga bidang, antara lain energi, rekayasa teknologi, dan lingkungan, untuk tingkat SMP dan SMA. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Cosmoz Foundation itu diikuti 70 negara dan 40 negara bagian di AS.
Indonesia sendiri telah tiga kali mengikuti ajang internasional ini. Pada keikutsertaan sebelumnya, Indonesia meraih dua medali emas, dua medali perak, tiga medali perunggu, dan empat honourable mention.
Ketiga tim yang dikirim merupakan para juara dari ajang Indonesian Science Project Olympiad 2010 (ISPO 2010). Presiden ISPO Bambang Sudibyo di Jakarta, Kamis (22/4/2010), menjelaskan, ISPO merupakan pintu bagi siswa untuk menjadi berkelas dunia. Bambang berharap, ISPO dalam proses mematenkan hasil penelitian siswa Indonesia tersebut bisa dikomersialkan.
Adapun tim Indonesia yang terjun dalam ajang I-SWEEEP ini adalah Healtha Padmanusa dan Nabila Binti Ahmad Anshori dari SMA Semesta Bilingual Boarding School, Semarang. Mereka berhasil meraih medali perak untuk kategori energi dengan judul penelitian Utilization of Anthocyanin Compounds from Senduduk Plant (Melastoma malabathricum) as Sensitizer in Dye Sensitized Solar Cell. Dalam penelitiannya itu, Healtha mencari solusi murah untuk membuat solar sel.
Wakil Indonesia lainnya, Dhora Vasminingtya dan Nila Sutra dari SMAN 1 Ponogoro, Jawa Timur, meraih perunggu untuk kategori rekayasa teknologi. Judul penelitian mereka Husk Supplement Concret a New Alternative Concrete which is Strong, Light, and Has a High Econmical Value. Penelitian ini mencoba memanfaatkan sekam atau kulit padi sebagai salah satu komponen atau suplemen membuat beton bangunan.
Selanjutnya, Mutiah Humaira dan Shinta Erdiana dari SMA Kharisma Bangsa Bilingual Boarding School, Tangerang Selatan, Banten, berhasil meraih honourable mention untuk kategori energi. Judul penelitian mereka adalah Utilization of Organic Waste being Solid Fuel (Biobriquette) and Liquid Smoke. Pada penelitian ini mereka berdua membuat biobriket dari bahan biomassa, seperti tongkol jagung, dedaunan, dan ranting.
Sumber: Kompas.Com
















